Sebuah Renungan Tentang Valentine
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116)
Semua Ada Masanya, Jangan Tergesa
"Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh…” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra,).
Begitulah proses penciptaan manusia. Setiap insan telah melaluinya, langkah demi langkah. Setiap tahapan dalam proses pun telah diperhitungkan dengan cermat,tepat dan tanpa cacat sedikitpun.
Watak Iblis
Watak iblis telah dijelskan dalam Alquran, meliputi: sombong, takabbur, angkuh, congkak, ataupun arogan (QS 38: 74) dan tentu saja ia tidak mau tunduk, patuh, ataupun taat pada Allah (QS 38: 75-76). Padahal, dia benar-benar mengetahui di dalam hatinya bahwa perbuatannya itu memang benar-benar salah dan sesat menyesatkan (QS 8: 48). Sikapnya selalu menunjukkan: membangkang dan membantah (QS 20: 116, 17: 62); mengakui dirinya lebih hebat (QS 7: 12), dan bahkan meremehkan manusia (QS 17: 62). Pun, hatinya diselimuti dengan iri, dengki, dan hawa nafsu yang jahil (tafsir Ibnu Katsir QS 7: 11). Dan, misi hidupnya hanya untuk menyesatkan seluruh umat manusia (QS 38: 82).
Nabi Musa Pernah Ditegur Karena Lakukan 'Kesombongan Intelektual'
Sifat sombong (al-kibr) dan menyombongkan diri (al-takabbur) merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Kesombongan, menurut Ghazali, bermula dari kekaguman seseorang kepada diri sendiri (al-`ujb), lalu memandang rendah orang lain. Sifat sombong merupakan sikap batin yang terejawantahkan dalam perbuatan dan tindakan yang cenderung destruktif dan diskriminatif.
Memaknai Hamdallah
Dalam keseharian sering kali kita mendengar ungkapan kalimat alhamdulillah, atau disebut hamdalah, diucapkan. Hal ini terutama untuk menyatakan perasaan bersyukur, penyelesaian suatu pekerjaan, kesembuhan dari suatu penyakit, jawaban terhadap pertanyaan tentang kabar, ungkapan terima kasih dan lain-lain. Apa sesungguhnya makna yang terkandung di dalam hamdalah tersebut?









