KH Abdul Manaf Mukhayyar
Memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei, perlu kiranya saya mengulas sosok KH Abdul Manaf Mukhayyar, tokoh pendidikan dari tanah Betawi, yang telah berhasil membangun salah satu pondok pesantren terkemuka di Jakarta, bahkan tersohor di seluruh nusantara hingga Asia Tenggara, yaitu Pondok Pesantren Darunnajah, yang beralamatkan di Jl Ulujami Raya No 86 Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
FOKLOR LISAN DAN HIKAYAT DI BETAWI
Indonesia memang dikenal dengan negeri kaya akan cerita prosa rakyat baik berupa mitos, legenda, dan dongeng (folktale), seperti Malin Kundang dari Sumatra Barat, Sangkuriang dari Jawa Barat, dan Roro Jonggrang dari Jawa Tengah.
Cerita prosa rakyat merupakan bagian dari foklor lisan. Sedangkakan foklor, memiliki ciri-ciri utama sebagai berikut, yaitu: Pertama, penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yaitu melalui tutur kata dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi selanjutnya;
Batik Betawi, Batik Islami
Jika mendengar kata batik, pikiran kita akan tertuju pada Kota Solo dan Pekalongan. Memang, kedua kota ini dikenal sebagai kota batik, produsen utama batik di Indonesia. Tapi tahukah kita, jika di Jakarta tempo dulu pernah diramaikan dengan tempat-tempat usaha pembuatan batik yang dimiliki oleh orang-orang Betawi? Dan, tahukah kita bahwa koperasi batik di Indonesia pertama kali berdiri di Jakarta, bukan di Solo atau Pekalongan?
Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB)
Setiap kampung ada penghuninya, setiap rumah ada tuan rumahnya. Begitu pula Jakarta yang walau penduduknya berasal dari berbagai macam suku bangsa, ras dan etnik, tetap punya penduduk asli, yaitu suku Betawi. Terlepas dari sekian banyak teori dan penelitian tentang apa dan siapa itu Betawi, suku ini ada. Menyejarah dan tetap eksis sampai saat ini. Ialah satu-satunya suku, yang dalam suatu hasil penelitian, bahasanya menjadi nomor dua digunakan masyarakat secara nasional setelah bahasa Indonesia. Suku yang adat-setiadatnya paling banyak dilihat orang se Indonesia di layar kaca melalui sinetron dan tayangan lainnya.
TA`ARUF DAY
Seakan sudah menjadi kalender nasional jika tanggal 14 Februari masyarakat dunia, terutama di Indonesia, digiring oleh sebagian besar media massa, terutama infotainment, untuk merayakan atau menikmati Valentine Day. Sangat megherankan memang karena Valentine Day tidak ada urusannya dengan agama apapun atau juga dengan kepentingan nasional, mengapa begitu dibesar-besarkan seperti hari raya? Ironisnya, seperti menjadi ritual, isi perayaannya adalah kegiatan perzinahan, bukan hanya dilakukan oleh para penzina dewasa, tetapi oleh para remaja. Banyak hotel-hotel dari kelas melati sampai yang berbintang pada hari itu menjadi penuh dipakai para pasangan pezina untuk melampiaskan nafsu binatangnya.









